Showing posts with label Cerita Novel. Show all posts
Showing posts with label Cerita Novel. Show all posts

ETIKA DALAM PENDIDIKAN

ETIKA PENDIDIKAN


A.     TA'RIF.
Etika            : Pantas, Patut, Sopan-Santun, Tatakrama,     Budipekerti, Akhlaq. (etis)
Pendidikan  : 1.
Tarbiyah, dari asal kata Rabb yang berarti Mengasuh, mengatur, mengelola, memelihara, merawat, menumbuhkembangkan, melengkapi dari taraf sederhana ketaraf sempurna.
Firman Allah :
" Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam ".
                         "Ya Rabb, ampunilah saya dan kedua orangtua saya, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka memelihara kami sewaktu kecil"
                        2. Ta'dib dari asal kata Addaba yang berarti Mendidik, menyontohi.
 Sabda Nabi " Tuhanki telah mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan"
                         3. Ta'lim dari asal kata 'Allama yang berarti mengajar, memberitahu.
Firman Allah :
 "Dan Allah mengjarkan (memberitahu) Adam akan segala nama"
Dari definisi diatas, Etika Pendidikan dapat dimaksud dengan " Upaya mewujudkan pendidikan yang etis baik dalam proses maupun hasilnya yang meliputi Iman, Ilmu dan Amal (kognitif, Afektif dan Psikomotorik).
B.    SASARAN
        Sasaran pendidikan adalah manusia
        Manusia diciptakan sebagai mahluk paling sempurna baik secara fisik maupun rohaninya.
         Manusia dimulyakan diatas ciptaan yang lain dan diberikan tugas sebagai Kholifah dimuka bumi. Manusia yang bertaqwalah yang lebih unggul daripada yang lainya.
       Pada hakekatnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci hanya proses berikutnyalah yang akan menentukan selanjutnya. Oleh karena itu sasaran etika pendidikan adalah memanusiakan manusia. Sabda Nabi: "janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, saling menjauhi dan jadilah jalian hamba Alloh yang bersaudara."
       Disini kita dianjurkan untuk menciptakan suasana yang saling mengasihi saling memahami, komunikatif dan saling menolong serta bantu membantu.

C.   METODE.
Antara Pendidik, peserta didik, proses (sistem) sarana dan prasarana tidakbisa dipisahkan satu dengan lainnya, namun sesuai judul akan lebih diketengahkan mengenai proses (metode).
Akhir-akhir ini orang tua mengeluhkan Betapa anak yang digadang-gadang dapat menjadi anak yang dipandang menyenangkan (qurratu a'yun) malah menyebalkan, disiapkan menjadi Pengganti malah memalukan, padahal pendidikannya pun cukup malah sudah sarjana.
Tidak sedikit Pendidik yang merasa kurang berhasilmengajar apalagi mendidik muridnya, bahkan tidak sedikit guru yang didemo oleh muridnya.
Apa yang kurang ?
Barangkali ini jawabnya :
1.      Pendidikan dengan Keteladanan.
Ada pepatah menyebutkan " Guru wong kang di gugu lan ditiru"
Faktor keteladanan sangt menentukan bagi berhasilnya pendidikan. Pendidikan dengan cara memberikan teladan yang baik membuat anak akan mendapatkan sifat-sifat utama, akhlaq sempurna, meningkat pada keutamaan dan kehormatan. Tanpa keteladanan yang baik, pengajaran dan nasehat pendidikan akan gagal.
Firman Allah : " Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian tidak melakukannya...?"
Orang bijak berkata:                   
                              "Mulailah dengan dirimu sendiri dan cegahlah penyakit itu menular ke yang lainnya, jika demikian maka Andalah orang yang bijak.
       Disitulah akan diterima dan diikuti nasehat anda; dengan pendidikanmu itu maka bermanfaatlah pengajaran darimu."
2.      Pendidikan dengan Adat Kebiasaan
Pendidikan dengan pola ini akan menjadikan anak berada dalam pembentukan edukatif dan sampai pada hasil yang memuaskan, karena anak akan merasa selalu diperhatikan ,diawasi,dibimbing atau sekali-kali "diancam". Dengan dibiasakan dan dilatih secara kontinyu, maka akan dapat mengoptimalkan Intelegence Quotien (IQ),Emotional Quotien (EQ) dan juga Spiritual Quotien (SQ). Artinya mampu memadukan kemampuan akal, rasa dan keagamaan atau dalam bahasa agama mampu memadukan kegiatan berfikir, berempati dan berdzikir. Atau bisa juga dikatakan aktivitas berfikir, bekerja dan terakhir adalah berdo'a dan bertawakkal. Sebagaimana Firman Alloh SWT :
      "Wahai Orang-orang yang beriman bersabarlah kalian semua bertahan dan konsisten, bertaqwalah kepada Alloh agar kalian beruntung."
Sabda Nabi :"Sebaik-baik amal adalah yang kontinyu walaupun sedikit ".
-          Binatang bisa dilatih. Tumbuh-tumbuhan bisa dibentuk, maka manusiapun lebih mudah dikondisikan.

3.      Pendidikan dengan Nasehat.
Dengan pemberian nasehat anak akan terpengaruh oleh kata-kata yang memberi petunjuk, nasehat yang memberi bimbingan, kisah yang efektif, pengarahan yang membekas sehingga anak akan tergerak hati dan emosinya. Sebagaimana dicontohkan oleh Lukmanul Hakim ketika menasehati putranya. Firman Alloh : "dan ingatlah ketika lukman berkata pada anaknya, seraya menasehatinya: " janganlah engkau sekutukan Alloh karena mempersekutukan itu sungguh merupakan penganiayaan yang besar".
    Ketika Musa AS diutus untuk berdakwah kepada fir'aun yang mengaku tuhan itupun diperintahkan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang lembut. Firman Alloh : "Maka katakanlah olehmu (Musa) kepadanya (Fir'aun) dengan perkataan yang lembut (Layyinan)".
4.      Pendidikan dengan Perhatian/Pengawasan.
Pendidik hendaknya mencurahkan segala perhatiannya dengan penuh kasih sayang, mengikuti perkembangan aspek aqidah dan moral anak, mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan sosial serta selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya.
Memperhatikan dan menyayanginya seperti terhadap anak sendiri seperti dicontohkan Nabi juga dalam sabdanya : "sesungguhnya aku ini terhadap kalian laksana orang tua terhadap anaknya."
Selalu menjalin silaturahmi yang berdasarkan silatul qolbi wa ar ruh ( ikatan hati dan jiwa) yang akan menghasilkan silatul kasbi wa alikhtiyar ( Persaudaraan yang produktif).
Tidak lupa senatiasa mendoakan. Firman Alloh : "Ya Tuhan kami berikanlah kami dari istri dan keturunan kami –murid-murid kami-pandangan yang menyejukkan mata serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertaqwa."

5.      Pendidikan dengan memberikan 'hukuman'.
Yang dimaksud dengan memberikan hukuman adalah dengan hukuman yang mendidik, yang tidak menjatuhkan martabat apalagi sampai melanggar HAM yang diharapkan akan menimbulkan efek jera bagi pelaku maupun yang lainnya.dan mempunyai perasaan serta kepekaan untuk menolak dan mengikuti hawa nafsunya.

D.      PENUTUP
Firman Alloh SWT:
" Maka disebabkan rahmat Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini. Kemudian apabila kamu telah bulat tekad, maka bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya."
Sabda Nabi Muhammad SAW:

" Demi Alloh, bahwa petunjuk yang diberikan Alloh kepada seseorang melalui kamu lebih baik bagimu daripada kekayaan yang banyak. (HR. Bukhori dan Muslim). 

Aku Bukan Produk GAGAL!



“Kalau kamu di kampung, siapa yang suka ngasih motivasi?” cetus mbak Murni di saat aku menyambangi kediaman barunya di asrama tentara sekitar kawasan Cimahi.
“Hmm.. siapa ya, rasanya nggak ada mbak!”
“Nggak ada? Terus gimana kamu kalau kamu sedang down?”
“Tak banyak yang kulakukan. Hanya merenung.”
“Me-re-nung?”
“Ya, memikirkan langkah apa yang harus kulakukan walau hingga saat ini belum ada jalan keluarnya.”
PERBINCANGAN itu terjadi sekitar enam bulan yang lalu. Mbak Murni adalah salah satu teman baikku sekaligus motivator buatku.
Malam ini hampir sama dengan malam-malam sebelumnya, aku tak dapat memenjamkan kedua bola mataku hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Hampir setiap hari aku selalu gelisah tanpa sebab. Aku bangkit dari ranjang, kupandangi wajahku di cermin,
“Lihatlah, tanpa motivasi dari orang lain betapa rapuhnya dirimu sekarang ini.”
“Apa setiap saat kamu akan selalu mengandalkan orang lain untuk membangkitkan semangat hidupmu? Sungguh kasihan dirimu!”
“Selama ini kamu selalu menyalahkan orang lain atas ketidakberuntungan hidupmu. Kamu selalu menyalahkan kedua orangtuamu atas nasib buruk yang menimpamu. Parahnya, disadari atau tidak, kamu sering menghujat tuhanmu. Kamu menganggap tuhanmu sudah berlaku tak adil. Sangat menyedihkan! Orang-orang di luar sana pontang-panting mengais rejeki, berjibaku dengan bahaya. Kamu masih beruntung, kehidupan kamu tidak se-tragis mereka-mereka yang ada di luar sana.”
“Ingat, sering-seringlah kamu melihat ke bawah. Kamu, punya tempat tinggal dan orangtua yang masih utuh, sedang mereka di luar sana? Jangankan tempat tinggal, untuk mengisi perut saja mereka harus bermadikan peluh dan bersaing menghadapi kerasnya dunia. Tapi lihatlah... mereka bisa bertahan hidup dan berdiri tegak. Mungkin sebagian diantara mereka ada yang sama sekali tidak tahu siapa dirinya sesungguhnya, terlahir dari siapa saja mereka tak tahu. Yang lebih mengerikan lagi, beberapa diantaranya banyak yang terjerumus ke jurang kemaksiatan. Sungguh kasihan, mereka harus bertahan dengan kehidupan yang mengerikan. Sekali lagi... kamu masih beruntung, walau terkadang kamu menghujat dan melalaikan perintah-Nya tapi tuhan masih menyayangimu dan membawamu ke jalan kebenaran.”
Aku mendesah panjang “Berhentilah mengeluh dan jangan mengharapkan bantuan orang lain walau itu berbentuk sebuah motivasi sekalipun. Biasakan dirimu berdiri tegak di atas kedua telapak kaki kamu dan berjalanlah dengan pasti untuk kemajuan hidupmu. Banyaknya ombak yang menerjang hingga membuatmu jatuh bangun adalah wajar, karena itu merupakan hukum alam kehidupan. Berubahlah dan segera bertaubat. Jangan merasa takut, kecuali pada satu; tuhan sang pencipta; Allah azza wajalla.”
Entah mengapa hari ini aku merasa setitik Nur menerangi alam raya hatiku. “Apa yang sebenarnya kamu cari? Selama ini... kamu selalu menuntut banyak pada tuhanmu. Lalu, apa saja yang sudah kamu berikan pada tuhanmu yang terkasih itu?” kutarik nafas dalam-dalam, “Tak banyak! Masih jauh dari apa yang telah kuperoleh.” Kembali aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan,” Tidakkah kamu malu, terus meminta tapi jarang memberi?”
“Aku malu, sungguh... aku malu padaMu tuhan!”
Perang batinku semakin gencar. Rasa sesak menyelimuti rongga dada, hatiku perih bagai tersayat-sayat. Sudah tak terhitung berapa kali dan berapa banyak jumlahnya, air hangat berjatuhan dari pelupuk mataku. Seketika aku membuka lemari baju, mataku menatap tajam pada sehelai jilbab putih yang lekas kuraih. Entah apa yang menggerakkan tanganku ini, kucoba mengenakannya.
Subhanallah...hatiku bergetar hebat, aku merasa benar-benar nyaman dan terlindungi. Untuk kesekian kalinya, sungai kecil mengalir membanjiri kedua pipiku. Penyesalan terdalam sungguh mengoyak nuraniku.
“Sudah sepantasnya kamu menutup semua auratmu!”
“...Tapi, rasanya aku belum siap. Nanti saja!”
“Apalagi yang kamu tunggu? Mau sampai kapan? Kalau tuhan belum membukakan mata hatimu, apa kamu mau terus seperti ini? Bagaimana jika kamu belum sempat bertobat lantas tuhan mengambil nyawamu? Na’udzubillah.”
Aku maggut-manggut seraya bergumam “Ya, aku tak perlu banyak menunggu! Hanya perlu melakukannya sekarang. Jangan tunggu sampai besok, besok dan besok lagi. Karena selanjutnya akan ada besok yang terus berlanjut. Itu artinya, banyak waktu yang terbuang sia-sia karena sebuah penundaan. Ingat! penundaan dalam melakukan hal baik sama dengan menanamkan benih sifat malas dalam diri. Jika manusia sudah dikuasai sifat malas, hidup pun terasa hambar, tak bergairah lagi. Selamatkanlah dirimu dari sifat yang dibenci tuhan, yaitu pemalas!”
Segera berlalu mengambil air wudhu. Kuayunkan tanganku seraya mengucapkan takbiratul ikhram, mengabdikan diri dan mencurahkan isi hati ini ke hadapan-Nya. Rangkaian penghambaanku pun usai setelah mengucap salam. Aku menangis tersedan, merasakan kenikmatan dan kedekatan spiritual dengan sang Khalik.
Kubersimpuh di hadapanya dengan berderai-derai “Terimakasih tuhan atas segala nikmat yang telah kau beri kepada hambamu ini. Izinkanlah hamba untuk selalu dekat denganMu. Berikan hamba kesempatan untuk menebus segala kesalahan yang pernah hamba perbuat, begitu juga kesalahanku terhadap ibu-bapak. Terutama ibu. Ya, ibu! Memang harus ibu terlebih dahulu, ibu.. ibu.. dan ibu.. seperti yang disabdakan baginda nabi besar Muhammad saw. Walau aku tak pernah sepaham dengan ibu, walau IBU tak seperti ibu yang lainnya, walau selama hidup aku tak pernah merasakan belaian ibu, walau sepanjang hayat dikandung badan aku harus menerima keterbatasannya. Insyaallah mulai saat ini aku ikhlas...”
Aku mulai mengerti siapa aku ini dan apa tujuan dalam hidupku. Tuhan yang bertahta di Arsy-Nya telah membuka mata hati dan alam pikiranku. Pahit-manis, pasang-surut, naik-turun harus kuhadapi. Karena keinginan terbesarku adalah membuat kedua orangtua bahagia sebelum suatu saat datang seseorang yang akan membawaku menuju kehidupan baru−−mahligai pernikahan.
Melakukan pendekatan secara psikologi demi pemulihan kejiwaan ibu yang selalu mengunci diri dari keluarga dan lingkungan sekitar terasa sangat penting di sisa-sisa hidupku ini. Terlebih, agamaku mengajarkan untuk selalu menghormati ibu.
“Ibu harus aku selamatkan!” itu tekad bulatku, karena aku sungguh-sungguh menyayanginya.
“Tidak ada kata terlambat, hanya saja aku perlu bersabar untuk tujuanku ini sekalipun aku harus menjadi ibu buat ibuku sendiri. Aku yakin aku bisa, karena aku sudah dewasa, toh.. suatu saat juga aku pasti menjadi seorang ibu.”
Biarlah... aku terlahir dari seorang ibu yang tak bisa menunjukkan rasa kasihnya, biarlah... aku terlahir dari seorang ibu yang banyak memiliki keterbatasan, Biar pula aku terlahir dari seorang bapak yang dingin dan kurang bertanggung jawab, itu bagian yang tak bisa lepas dariku. Aku ikhlas! Akan kutunjukkan pada isi semesta ini; pada rumput yang bergoyang, pada burung yang berdendang, pada semilir angin yang berhembus, pada gemericik air, juga pada penduduk dunia; masyarakat sekitar, teman-teman dan sanak-saudara; bahwa aku BUKAN-lah PRODUK GAGAL! Karena manusia terlahir bukan untuk GAGAL, namun proses untuk menuju sukses sangatlah relatif. Terkadang panjang, berliku bahkan melelahkan.
Pagi pun bersahutan, seruan yang teramat merdu didendangkan seorang muadzin melalui cerobong speaker toa. Mengajakku untuk melakukan tarian penghambaan, tarian yang menyejukkan jiwa, merajut tali kasih dengan sang pemilik-Nya, illahi rabbi.
**

AKU MAU JADI APA?


Kurenungkan ucapan paman tempo hari. Selain kehidupan yang lebih baik; sukses ataupun bahagia, sebenarnya apa yang kuinginkan, aku tak tahu pasti. Sejak lulus dari bangku SMA, sejak saat itu pula aku dilanda kebingungan yang tak berujung.
Bahkan jika aku memiliki kesempatan baik untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi, aku tak tahu jurusan apa yang akan kuambil. Di saat orang-orang seusiaku sudah berhasil dalam karir ataupun pendidikan, aku masih pontang-panting dari satu perusahaan ke perusahaan lain, sibuk mencari kerja yang belum tentu bisa menjamin kesejahteraan di masa depanku nanti.

“Aku mau jadi apa?”pertanyaan itu sering terlontar di benakku  dan memang benar-benar mengganggu pikiranku. Mengapa proses pencarian jati diriku sebegitu rumitnya? Beruntung sekali teman-teman yang dengan mudahnya menemukan apa yang sesungguhnya mereka cari.
Jika aku bekerja, pekerjaan apa yang sebenarnya aku inginkan? PNS, rasanya bukan! Pedagang juga bukan jiwaku. Kuli di pabrik? Apa iya selamanya aku akan melewatkan sisa hidupku di sana? Tak mungkin juga! Lalu... jika aku punya kesempatan kuliah, mata kuliah apa yang akan aku bidangi?
 Dengan kondisi yang masih menganggur, memungkinkan segala hal buruk meracuni alam pikiranku. Terlebih lingkungan keluarga yang tidak pernah mendukung.
“Sudahlah kamu gak usah bolak-balik ke kota, toh pada akhirnya kamu kembali lagi ke kampung. Buang-buang dana nggak jelas saja” ujar salah satu sepupu perempuanku.
“Namanya juga usaha, terus menurutmu aku harus ngapain? Berdiam diri di kampung?”
“Sambil nunggu jodoh, urusin nenek saja. Dia sudah tak bisa berbuat banyak, sudah pikun. Selama ada orangtua, toh di sini kamu nggak usah mikirin apa-apa, yang penting bisa makan!” ucapannya benar-benar membuat kupingku panas.
“Hemm.. “ aku tersenyum kecut “Enteng sekali kamu bicara, seolah hidup itu hanya asal bisa makan saja. Lagian mana ada lelaki yang mau dengan seorang pengangguran seperti diriku?”
“Kalau lelaki yang benar-benar pasti akan menerima apa adanya. Kamunya juga terlalu pemilih, ingat! Umurmu sudah tak muda lagi. Perempuan seusiamu sudah pada gendong anak. Emangnya kamu nggak iri?”
“Jujur keinginan menikah pasti ada. Tapi sebelum menikah, aku ingin punya pekerjaan yang jelas dan mengumpulkan uang dulu. Menikah kan perlu biaya, aku nggak mau membebani bapak.”
“Mengenai biaya menjadi tanggung jawab lelaki, kan biasanya pihak lelaki ngasih ifkah?”
“Tanggung jawab bersama dong! Namanya ifkah relatif, tergantung kemampuannya. Syukur kalau dapat suami yang kaya raya, kalau sama keadaanya? Kita nggak tahu seperti apa jodoh kita dan kehidupannya bagaimana. Aku nggak mau tergesa-gesa menikah hanya karena ingin menyenderkan bebanku pada suami. Keinginan membahagiakan orangtua dengan jerih payah sendiri masih kuat.”
Makin banyak waktu yang tersia-siakan maka semakin banyak pula pengaruh negatif mencuci otakku yang sedang dilanda kegamangan. Adalah paman yang sering melontarkan perkataan memojokkan “Bagaimana mungkin hidupmu bisa sejahtera, jika lingkungan pergaulanmu hanya di pabrik-pabrik saja. Percaya deh sama paman, wawasanmu tidak akan berkembang kalau terus kerja di pabrik. Ubahlah nasibmu, angkat derajat orang tuamu!”
Aku diam seribu bahasa. Ada benarnya juga pikirku.
“Memangnya seumur hidupmu mau dihabiskan di pabrik? Lihatlah sepupumu, dulu dia kerja di pabrik, hasilnya sudah bisa dipastikan berjodoh dengan orang pabrik juga.”
Kali ini aku setuju dengan ucapannya. Walau tak sepenuhnya benar, rerata yang sudah terjadi, buruh pabrik berjodoh dengan yang satu lingkungan; buruh juga. Ternyata lingkungan membawa pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Terngiang di telinga ucapan seorang perempuan muda yang bisa dikatakan naik kasta, “Pada dasarnya, lingkungan akan membawa kita bertemu dengan jodohnya. Sebagai contoh, apa yang pernah saya alami ini. Saya ini hanya lulusan SMA, itu pun hampir putus di tengah jalan karena keterbatasan biaya.”
“Saya masih ingat..” sambung perempuan itu “Sewaktu saya masih di kampung, saya sering membantu ibu berjualan sayur sisa panen petani di atas perahu. Siapa sangka dari hasil akhirnya saya bisa punya kehidupan yang lebih baik dan membantu orang tua di kampung.”
Alhamdulillah.. sekarang mbak masih kerja?” tanyaku.
“Masih, dan pekerjaan itu yang mempertemukan saya dengan suami saya.”
“Memangnya mbak kerja di mana?”
“Di perusahaan kontraktor. Awalnya dengan bermodalkan ijasah SMA, saya hanya ditugaskan sebagai pesuruh biasa. Namun karena saya banyak bergaul, dan para atasan memercayai pekerjaan saya, lambat laun saya naik jabatan hingga akhirnya kenal dengan suami saya sekarang yang seorang insinyur itu” dengan begitu bangganya perempuan itu menarik nafas dalam-dalam “Makanya pesan saya bergaulah dengan orang-orang yang akan membawamu ke arah kemajuan hidupmu baik secara moril maupun materil.”
“Luar biasa!”gumamku. Aku tersenyum bangga menyaksikan hasil dari kerja kerasnya.
Dalam hal pertahanan diri, bisa dikatakan aku rapuh saat ini. Kenapa bisa seperti ini? Mungkin benar apa yang dituliskan dalam sebuah buku, bahwa orangtua berperan penting dalam proses pembentukan karakter anaknya. Yang terjadi padaku saat ini adalah hasil dari didikan yang salah. Bagaimana pun juga, ibu tak pernah mencurahkan kasih sayang layaknya ibu-ibu yang lain, bapak juga kurang bertanggung jawab.
Jauh di lubuk hatiku, tersimpan keyakinan yang kuat akan kedua orangtuaku terutama ibu. Didalam relung hatinya, mereka tak pernah berniat jahat dan selalu mendoa’kan aku. Walau mereka tak pernah menunjukkan rasa kasihnya.
Aku ingin seperti perempuan luar biasa itu, mencapai puncak kebanggaan dalam hidup. Salah satunya aku harus mencetak prestasi, bukan sensasi karena aku ingin dikenal banyak orang. Dengan terkenal semuanya pasti akan terasa mudah.
Bisa dibilang, aku merupakan pendengar yang setia. Dalam beberapa bulan terakhir, kucurahkan segala yang pernah kudengar, kulihat bahkan kurasakan ke dalam sebuah tulisan, berharap ada penerbit yang sudi mempublikasikannya.
**

JATUH KE LUBANG YANG SAMA


Berbekal ijasah SMA tanpa mempunyai pengalaman dari sebuah keterampilan menjadi kendala dalam mencari pekerjaan. Kursus jahit telah aku jalani, tidak serta-merta membuat jalanku mulus. Seperti yang sudah kukatakan, hampir semua perusahaan garment di Bandung menginginkan karyawan yang berpengalaman.
Lika-liku hidup membawaku ke tempat yang sama sekali tidak ada dalam perhitunganku. Rupanya peruntunganku memang selalu ada di pabrik.
“Apa seumur hidup kamu mau terus-menerus kerja di pabrik?” ujar pamanku pada suatu ketika.
“Ya enggak lah, kebetulan saja dapatnya di pabrik.”
“Bukan keinginan, jika terus-menerus kerja di pabrik. Tapi... daripada tidak kerja sama sekali, tak ada pilihan lagi”gumamku.

“Makanya cobain yang lain. Kalau ada lowongan CPNS, sekali-kali kamu cobain melamar!”
“Bukannya nggak mau, dulu juga sempat mencoba, rupanya pihak penerimaan kurang tertarik dengan seorang lulusan SMA yang hanya berpengalaman kuli di pabrik. Rata-rata jaman sekarang kalau mau jadi PNS harus berpendidikan yang tinggi, minimalnya D3. Itu juga tidak semua beruntung. Kadang berkali-kali tes juga belum berhasil, apalagi aku yang hanya lulusan SMA. Mereka saja yang sudah honor bertahun-tahun masih banyak yang belum diangkat.”
“Minta koneksi saja sama bapakmu, masa nggak punya kenalan?”
“Kalau melalui koneksi tetap saja urusannya uang. Dari mana coba?”
“Ya nggak apa-apa, nanti juga bisa kembali. Pinjam dulu ke bank, gampang kan?”
“Aku nggak mau kalau harus mati-matian ngeluarin uang. Apalagi aku sendiri nggak terlalu berminat jadi PNS.”
“Terus kamu inginnya jadi apa?”
Aku diam. Merenungkan apa yang sebenarnya kuinginkan.
**
Kali ini aku melabuhkan sauhku di pabrik pembuatan rambut palsu atau yang sering di kenal dengan sebutan wig. Jaraknya tak jauh dari rumahku. Dengan mobil jemputan, bisa ditempuh dalam waktu setengah jam.
Selama tiga bulan aku ditraining. Upah yang dibayar dari setiap bulannya berbeda. Bulan pertama, empat ratus ribu. Bulan kedua naik limapuluh ribu, begitu juga dengan bulan ketiga.
Perusahaan Penanam Modal Asing (PMA) ini belum lama berdiri. Investornya adalah orang Korea Selatan. Upah yang dibayar disesuaikan dengan UMK kota setempat, itu jika memenuhi target karena sistem kerja di sini bersifat borongan. Jika sebaliknya, pendapatan buruh dihitung berdasarkan jumlah barang yang disetor dikali dengan harga per picisnya. Harga setiap wigrelatif, tergantung dari jenis barang yang dikerjakannya (tingkat kerumitannya).
Hampir semua penduduk setempat, terutama lulusan SD dan SMP, berbondong-bondong mencoba peruntungan. Tak terkecuali beberapa orang dari kampungku.
Dilihat dari segi keamanan, pabrik ini memiliki tingkat kecelakaan kerja yang terbilang rendah. Tidak adanya mesin−−menekan angka kecelakaan kerja. Hanya beberapa kecelakaan kecil saja seperti tertusuk jarum. Pabrik ini hanya memiliki satu gedung utama sebagai tempat bekerja. Ruangan ini digunakan untuk menampung semua bagian.
Alat yang digunakan juga sangat sederhana. Jarum, helaian rambut palsu dan kepala terbuat dari kayu yang dibentuk setengah lingkaran−−didesain menyerupai batok kepala. Di ruangan itu hanya ada meja kayu dan kursi yang disusun berjejer, layaknya ruang kantin pabrik. Karena memang ruangan ini dwifungsi. Selain untuk bekerja, berfungsi juga sebagai tempat makan di kala istirahat.
Seiring berjalannya waktu−−perlahan−−para buruh mundur. Alasan yang nyaris sama, selain tak kuat berjam-jam duduk me-netting[1]dan penglihatan yang mulai kabur. Parahnya tak bisa mencapai target yang ditentukan. Pada akhirnya, upah yang didapat sama sekali jauh dari UMK.
Terlebih suasana di pabrik akhir-akhir ini tidak kondusif. Bukan sekedar gonjang-ganjing. Aku sendiri menjadi saksi mata tragedi massal itu. Peristiwa ini berlangsung hampir satu bulan lebih. Ini bermula dari musim kemarau yang panjang.
Untuk memenuhi kebutuhan buruh, pihak pabrik menggunakan air sumur yang ada dikawasan pabrik. Jaringan PDAM belum sampai ke sana, dikarenakan relif tanah yang curam. Kemarau panjang mengakibatkan kekeringan, hingga suplai air setiap harinya tidak mencukupi lagi. Kondisi inilah yang memaksa pihak pabrik membongkar satu sumur yang sebelumnya sudah ditutup.
**
Percaya atau tidak. Menurut kabar yang beredar, sumur itu ada penghuninya. Merasa keberadaannya terganggu, makhluk itu beberapa kali menampakkan wujudnya di depan para buruh yang memang pikirannya sedang kosong. Histeria para buruh tak terbendung, manakala suasana pabrik teramat sunyi. Salah satu buruh memekik keras−−meraung−−meronta-ronta. Kontan semua buruh berhamburan mendekati pintu darurat. Dari dalam kantor, muncul beberapa petinggi pabrik. Personalia, kabag dan para staff. Dengan muka yang ditekuk mereka mencoba menetralisir keadaan.
“Tenang semuanya, tak ada apa-apa! Kembali lanjutkan pekerjaan kalian” ujar salah satu keamanan pabrik.  Para buruh bergeming, masih ketakutan.
“Iya, yang tenang saja. Jangan terlalu banyak pikiran. Itu hanya pikirannya saja yang sedang kosong, jadi berhalusinasi. Makanya banyak berdo’a” personalia pun menyahutnya.
“Im, tolong kamu pimpin do’a saja biar semua buruh tenang!” sambungnya pada kabag produksi.
Teh Iim mengangguk, dia mendekati kerumunan buruh “Mungkin kalian juga mendengar gosip yang santer beredar, saya harap kalian bisa lebih tenang menyikapinya. Tidak akan terjadi apa-apa jika kita bersungguh-sungguh bekerja. Ingat ya, jangan biarkan pikiran kita kosong” secara pribadi, kejadian ini seolah menjadi cambukan baginya.
“Alangkah baiknya, sekarang kita berdo’a saja. Semoga tidak ada lagi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Kalian kembali ke tempat masing-masing!” sambungnya.
Masih diliputi perasaan takut, para buruh terpaksa menuruti perintah kabagnya.
**
kondisi mencekam seperti ini berlangsung terus-menerus. Setiap harinya selalu ada karyawan yang pingsan kerasukan atau sekedar melihat penampakan saja. Tak henti-hentinya pula−−saban hari−−menjelang masuk dan pulang kerja para petinggi itu memimpin do’a.
Pagi yang sunyi. Jam kerja belum sampai sepuluh menit dimulai. Brukk.. terdengar benda yang terjatuh. Tak lama, para buruh histeris. Seperti biasa, orang–orang yang berpengaruh di pabrik menenangkan kami. Buruh yang pingsan pun digotong ke mushola. Suasana kembali normal. Selang beberapa menit kemudian, jerit tangis menjadi pengiring di saat jam kerja. Aku dan teman-teman saling lempar pandangan, berbisik, seraya mulut komat-kamit, tak henti-hentinya berdo’a.
“Setelah ini, siapa lagi yang jadi korban? Kira-kira di barisan ini ada nggak ya?” tanya Dede sambil tertawa ringan memecah kesunyian. Aku tahu yang dia lakukan hanyalah bentuk penutupan diri dari rasa ketakutan.
Aku tersenyum, menggeleng.
Ani menimpali “Kamu saja kali..”
“Ih.. amit-amit!” jawab Dede.
“Pstt.. kalian ini malah ngomong ngaco. Aku beneran takut nih!” ujar ‘Ai Reni
Tak ada lagi yang berbicara. Hanya terseyum saling lempar pandang dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Setiap barisan, di beberapa titik tertentu, selalu ada korban berjatuhan. Ini hari yang terparah. Sempat-sempatnya aku dan teman sebangku, menghitung jumlah korban yang berjatuhan. Di perkirakan lebih dari dua puluh orang dalam sehari. Pengakuan beberapa korban, mereka melihat penampakan makhluk yang tak lazim. Hingga akhirnya tak kuasa menahan takut dan histeris.
Berbagai cara dilakukan. Termasuk memanggil pemuka agama setempat. Merinding. Aku menyaksikan pengobatan yang dilakukan ustadz itu. Terlebih, dibacakan ayat-ayat al-qur’an, para korban menjerit histeris.
“Panass...” ujarnya dengan mata mendelik, tangan hendak mencakar. Pak ustadz menyuruh makhluk itu keluar dari tubuh korban. Makhluk itu bersedia jika permintaanya dituruti. Menutup kembali sumur yang telah digali. Segera, setelah peristiwa ini, pihak pabrik menuruti dan menutup kembali sumurnya.
Klimaks dari rentetan peristiwa ini, di saat pabrik menyelenggarakan acara peringatan ulang tahunnya. Bukan pengajian yang digelar, tapi acara musik dangdut koplo yang didatangkan. Masyarakat sekitar, menyebutnya pongdut. Pihak pabrik berdalih, terlanjur sudah mengontrak grup musiknya.
Awalnya semua berjalan lancar, sesaat setelah mister Kim hyung shin, sang Manager membuka acara. Para buruh terbuai, mengikuti irama musik seraya berbondong-bondong berjoget di depan panggung manakala lagu kebanggan pabrik, ABG Tua dan Alamat Palsuversi koplo didendangkan. Kedua lagu itu saban hari diputar mengisi kejenuhan para buruh yang bekerja dan menjadi top rank.  
Di sela-sela buruh yang berjoget, aku menyaksikan pemandangan yang kontras. Satu persatu buruh pun histeris, berjatuhan pingsan. Rupanya penghuni sumur terganggu dengan keramaian. Karena acara yang digelar, tepat berada di atas sumur yang baru beberapa hari ditutup. Musik dangdut itu masih saja tidak dihentikan. Beberapa penari dadakan pun tak menghentikan aksinya. Rupanya mereka sudah kebal dengan situasi seperti ini.
Ketegangan semakin memuncak, manakala salah satu penduduk setempat menerobos gerbang dan berjoget di panggung. Pihak keamanan pabrik mengusirnya, dengan alasan keamanan karena pria itu kedapatan tengah mabuk berat. Orang itu tidak terima dan menyulut aksi warga sekitar yang dari awal mengontrol jalannya acara. Amuk warga benar-benar menghentikan acara musik dangdut yang baru satu setengah jam dimulai. Terjadi adu agrumen bahkan adu jotos antara pihak pabrik dan penduduk setempat. Polisi yang bertugas kewalahan dan meminta bantuan.
Para buruh pontang-panting terjebak situasi. Bingung hendak ke mana berlari. Kami benar-benar terkepung. Dari dalam, banyak korban kesurupan yang mengamuk. Sedang di luar sana, warga terlihat lebih beringas. Terpaksa, kami tunggang-langgang ke dalam gedung. Saling seruduk, satu sama lain, ingin lebih dulu masuk. Beberapa orang terluka atas peristiwa ini. Kekacauan hari ini benar-benar klimaks dari semua peristiwa yang sudah terjadi di pabrik wig. Selanjutnya pihak pabrik memulangkan buruh lebih awal.  
**


[1] Kata dasarnya knetting; menjahit rambut palsu.